Jakarta- Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) Arjuna Putra Aldino mengingatkan, gerakan mahasiswa hanya untuk kepentingan bangsa, bukan kelompok tertentu.

Untuk itu, ditegaskanya, gerakan mahasiswa harus menggunakan kekuatan pengetahuan (power of knowledge) untuk membedah masalah bangsa secara holistik dan komprehensif.

“Dengan the power of knowledge gerakan mahasiswa mencoba menyajikan masalah secara fundamental dengan perspektif yang holistik dan komprehensif. Sehingga bisa menghindarkan diri dari arus yang diciptakan oleh kelompok kepentingan,” kata Arjuna dalam keterangan, Kamis (21/4/2022).

Ditekankannya, mahasiswa harus kembali menempatkan diri sebagai gerakan moral (moral force).

“Nafas gerakan mahasiswa adalah menjadi moral force, dengan melakukan refleksi kritis atas kondisi bangsa yang terjadi akhir-akhir ini. Tugasnya adalah warisan sejarah untuk meluruskan jalannya pemerintahan,” tutur Arjuna.

Arjuna juga mengingatkan, gerakan mahasiswa tidak boleh terjebak pada politik praktis, terlibat dalam dongkel-mendongkel kekuasaan. Arah gerakan mahasiswa harus ditujukan untuk menyemai kesadaran kritis masyarakat dan membenahi masalah yang menimpa bangsa serta kesulitan-kesulitan yang dialami oleh masyarakat.

“Gerakan kita harus ditujukan untuk melakukan kontrol politik, untuk mengawal rasa keadilan masyarakat dan membenahi masalah yang menimpa bangsa dan kesulitan masyarakat. Jangan sampai hanya jadi kayu bakar,” papar Arjuna.

Selain itu, Arjuna juga meminta partai politik sebagai lembaga yang didirikan untuk mengakselerasi suara rakyat tidak boleh hanya berfikir semata-mata transaksi kekuasaan. Namun juga harus ikut andil memberi alternatif untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan sosial ekonomi yang sedang menimpa masyarakat akhir-akhir ini.

Partai politik sudah mengalami disfungsi sebagai lembaga agregator suara rakyat. Cenderung hanya berfikir lima tahunan dan terjebak hanya meraih kursi kekuasaan.

“Kami meminta partai politik juga melakukan perannya sebagai lembaga artikulator suara rakyat. Jangan sampai hanya sibuk bicara penundaan pemilu, berfikir lima tahunan. Dan terjebak pada logika berebut kursi kekuasaan,” Tutup Arjuna.

Temukan juga kami di Google News.