Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Apa yang datang dari Nabi Saw, kita terima apa adanya. Tidak perlu ditambah, jangan pula dikurangi. Keyakinan terhadapnya menyeluruh (total), tidak boleh parsial.

Tidak boleh, karena ada ancaman kezaliman penguasa lalu menguranginya. Atau demi mendapatkan dukungan penguasa, menambahnya dengan sesuatu yang tak disyariatkan.

Contohnya bendera tauhid. Bendera tauhid adalah bendera yang bertuliskan kalimat tauhid, la Ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Atau secara syar’i disebut Al Liwa dan Ar Royah.

Al-Liwa dan Ar-Rayah merupakan nama untuk bendera dan panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Secara bahasa, keduanya berkonotasi Al-‘Alam (bendera).

Secra syar’i, Al-Liwa (jamaknya : Al-Alwiyah) dinamakan pula Ar-Rayah Al-‘Azhimah (panji agung), dikenal sebagai bendera negara atau simbol kedudukan pemimpin, yang tidak dipegang kecuali oleh pemimpin tertinggi peperangan atau komandan brigade pasukan (amir Al-Jaisy) yakni Khalifah itu sendiri, atau orang yang menerima mandat dari Khalifah, sebagai simbol kedudukan komandan pasukan. Ia memiliki karakteristik berwarna putih, dengan khath berwarna hitam :

لا إله إلا الله محمد رسول الله

_“Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah” berjumlah satu._

Sedangkan Ar-Rayah (jamaknya : Ar-rayat), ia adalah panji (Al-‘Alam) berwarna hitam, dengan khath berwarna putih :

لا إله إلا الله محمد رسول الله

_“Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”, dinamakan pula Al-‘Uqab._

Ar-Rayahnberukuran lebih kecil daripada Al-Liwa dan digunakan sebagai panji jihad para pemimpin detasemen pasukan (satuan-satuan pasukan (kata’ib), tersebar sesuai dengan jumlah pemimpin detasemen dalam pasukan, sehingga berjumlah lebih dari satu.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu :

كَانَ لِوَاءُ -صلى الله عليه وسلم- أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ

“Bendera (Liwa) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna putih, dan panjinya (Rayah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, Al-Baghawi, At-Tirmidzi)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhu :

كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْه ِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

_“Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”.”_ (HR. Ath-Thabrani)

Tidak boleh, mengubah khat atau tulisan bendera tauhid dengan tulisan yang lain. Tidak boleh pula, mengganti warna bendera tauhid dengan warna lain yang tidak disyariatkan.

Kalaupun mau mengubah warna dasar kain menjadi hijau, masih diperkenankan sepanjang tidak menghalangi dikibarkannya warna bendera tauhid yang syar’i, yakni dengan warna dasar kain hitam dan putih. Saat nanti di akhir zaman, pasukan Islam dari timur yang membawa bendera dalam hadits, warna benderanya adalah hitam. Bukan hijau, atau warna selainnya.

Karena itu, bendera tauhid baik berbentuk Al Liwa yang berwarna kain dasar putih maupun berbentuk Ar Royah berwarna kain dasar hitam, sah dan menjadi hak umat Islam dikibarkan dimanapun. Termasuk, dikibarkan dalam agenda Reuni 212 sebagai simbol persaudaraan dan persatuan umat Islam se-dunia.

Temukan juga kami di Google News.