Jakarta – Operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) bakal dimulai pada tanggal 18 Agustus 2023. Ini bakal sebagai hadiah yang disuguhkan sehari usai perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-78. Namun rupanya hadiah ini tak lepas dari bayang-bayang permasalahan si sepur cepat itu.

Di balik kegembiraan menyambut momen bersejarah ini, terdapat segudang persoalan yang mengendap, menanti untuk terus dicermati publik.

Seperti seekor naga yang tidur, proyek KCJB telah merangkak lamban sejak tahun-tahun sebelumnya. Namun, kini, saat waktunya tiba, masalah-masalah tersebut seakan ingin menyeruak ke permukaan, untuk mengingatkan kita akan pelik persoalan yang terkandung dalamnya

Berikut adalah berbagai persoalan menemani KCJB yang dihimpun redaksi :

Pertama, Utang Bengkak. Di tengah lautan waktu yang bergulir, Indonesia seakan mulai terjebak dalam pusaran yang semakin dalam. Pembangunan infrastruktur menjadi tonggak kemajuan dan cita-cita terpampang di cakrawala menimbulkan pembengkakan utang. Beban ini terus merongrong di tengah ruang-ruang harapan.

Pemerintah Indonesia dan China sebelumnya telah mencapai kesepakatan untuk menaikkan biaya proyek KCJB sebesar 1,2 miliar dolar AS. Untuk mengatasi peningkatan biaya tersebut, Indonesia melakukan negosiasi dengan China dan memperoleh pinjaman sebesar 560 juta dolar AS.

Informasi ini bahkan disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, pada hari Senin tanggal 10 April 2023, setelah kunjungannya ke China pada tanggal 4-6 April 2023.

Kedua negara juga telah menyetujui peningkatan biaya proyek KCJB sebesar 1,2 miliar dolar AS atau sekitar 18,02 triliun rupiah. Angka ini didasarkan pada hasil audit dari masing-masing negara yang kemudian disepakati bersama. Dengan demikian, total biaya proyek sejak tahun 2016 mencapai 7,27 miliar dolar AS.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang kelangsungan proyek dan kemampuan untuk melunasi utang yang ada. Jika utang ini tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat berdampak negatif pada keuangan proyek dan bahkan pada perekonomian secara keseluruhan.

Kedua, Kecelakaan Kerja Tragis. Kecelakaan ini terjadi di jalur KCJB pada tahun 2022 dan memicu kepanikan dan ketakutan yang luar biasa di kalangan masyarakat terkait keamanan dan keselamatan dari sistem transportasi baru ini saat memasuki fase operasional.

Kecelakaan tersebut terjadi saat sebuah kereta teknis terlibat dalam proyek konstruksi KCJB di daerah Kampung Cempaka Mekar, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Dua pekerja tewas dalam kecelakaan tersebut dengan kondisi yang sangat mengerikan. Selain itu, beberapa pekerja juga mengalami luka-luka parah yang mungkin bisa mengubah hidup mereka selamanya. Kejadian ini juga mungkin menimbulkan trauma yang mengerikan bagi mereka yang selamat.

Di samping itu, kekhawatiran mendalam di kalangan masyarakat juga membangkitkan rasa takut. Terutama terhadap apa yang mungkin terjadi saat kereta tersebut mulai beroperasi?

Pertanyaan tentang keamanan dan keselamatan menjadi semakin penting di saat keraguan terus meluas di benak publik. Apa yang akan terjadi jika kejadian serupa terjadi saat kereta tersebut penuh penumpang? Apakah infrastruktur dan sistem yang ada sudah siap menghadapi situasi darurat?

Peristiwa tragis ini menjadi pengingat yang menakutkan tentang risiko yang mungkin dihadapi oleh penumpang. Diperlukan jaminan yang kuat terkait keamanan transportasi ini sebelum masyarakat bersedia mengambil risiko untuk menggunakan layanan yang baru.

Ketiga, Pipa Pertamina Meledak. Kejadian ini terjadi di sisi Tol Purbaleunyi Km 130, Cimahi pada hari Selasa tanggal 22 Oktober 2019 silam. Letak terbakarnya pipa tersebut berada di area proyek KCJB.

Insiden serius itu terjadi saat proses konstruksi elevated oleh kontraktor KCJB. Seorang warga negara asing (WNA) bernama Li Xuanfeng, pekerja proyek KCJB tewas dalam insiden tersebut.

Li merupakan pegawai yang bekerja di subcon PT CREC yakni PT Ming Shu Construction. Nyawanya tak bisa kembali akibat ledakan pipa minyak saat proses pengerjaan sepur cepat.

Meledaknya pipa Pertamina terkait dengan proyek KCJB itu juga menjadi perhatian serius. Timbul pertanyaan bagaimana dengan pemeliharaan dan keamanan infrastruktur yang bisa mengancam lingkungan sekitarnya?

Mengingat, ledakan pipa itu melahirkan pencemaran lingkungan, risiko kebakaran. Bahkan membahayakan keselamatan masyarakat.

Keempat, Bunga Utang. KCJB masih menghadapi sejumlah masalah. Selain keterlambatan mencapai target pembangunan, pembengkakan biaya proyek juga datang menghantui. Tambah lagi anggapan beban bunga pinjaman yang terlalu berat.

Awalnya perkiraan proyek kereta cepat ini akan menghabiskan dana sebesar 86,67 triliun rupiah. Namun, terjadi pembengkakan biaya atau cost overrun menjadi 114,24 triliun rupiah pada tahun 2021.

Bila salah pengelolaan bisa berisiko fatal seperti prediksi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). Yakni kemungkinan bahwa China akan mengambil alih pengelolaan kereta cepat, jika Indonesia mengalami kesulitan dalam membayar utang.

Apalagi, China hanya bersedia menurunkan suku bunga utang proyek kereta cepat menjadi 3,4 persen dari total pinjaman sebesar 8,3 triliun rupiah.

Jadi rentetan tragedi melingkupi proyek KCJB melahirkan bayangan gelap yang menghimpit. Mulai dari utang membengkak mengikat leher bangsa seperti tali pengikat. Janji kemajuan berubah menjadi cambuk yang menghajar rakyat. Rasa takut merajalela di antara jiwa yang terhimpit.

Tragedi kecelakaan kerja membelit, korban tak bisa kembali. Darah tersembunyi di balik impian infrastruktur megah. Meledaknya pipa Pertamina melumpuhkan impian yang tergantung di udara. Lingkungan tercemar, manusia terperangkap dalam penyakit.

Beban bunga mencekik negara. Kebebasan bisa direnggut oleh pembayaran tak berujung. Bayang-bayang ketidakpastian mengancam keberlanjutan proyek.

Segudang persoalan itu kemudian membuat kepercayaan publik seakan bergantung pada benang tipis? Terhadap proyek yang dikerjakan oleh perusahaan patungan BUMN China dan Indonesia. [*]

Temukan juga kami di Google News.