Oleh : Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute dan Kepala Studi Ekonomi Politik UPN Veteran Jakarta

Sudah hampir 2 pekan pasca terjadinya tragedi kemanusiaan terbesar dalam dunia sepak bola di Indonesia dan nomor 2 di dunia belum menemui titik terangnya. Lebih dari 131 jiwa nyawa melayang dan lebih dari 500 orang yang dirawat di RS akibat tragedi yang memilukan ini.

Aparat keamanan telah menetapkan 6 orang sebagai tersangka dalam tragedi ini. Kapolres Malang pun akhirnya dicopot dari jabatannya. Terakhir Kapolda Jawa Timur Nico Afinta yang namanya juga disebut sebut dalam kasus Sambo dan Konsorsium 303 juga dipindah tugaskan sebagai Kapolda Jawa Timur imbas dari tragedi ini.

Meskipun telah ditetapkan 6 tersangka oleh kepolisian namun berbagai pihak masih menganggap tragedi ini masih gelap segelap gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan. Simpang siur terkait kejadian ini pun terus merebak di publik. Video video kengerian peristiwa di stadion Kanjuruhan pun masih terus memenuhi lini massa.

Dalam konferensi pers terakhir Mabes Polri lewat juru bicaranya Dedi Prasetio masih tetap membantah gas air mata bisa membunuh seseorang. Memang hal yang aneh yang disampaikan institusi kepolisian ini,seolah terkesan ingin cuci tangan dan lepas tangan atas Tragedi ini.

Media internasional Washington Post memberitakan ada setidaknya 40 tembakan gas air mata yang ditembakkan kepolisian ke penonton yang malam itu menonton pertandingan di Kanjuruhan. Polisi sendiri mengatakan melepaskan 11 tembakan gas air mata kepada penonton.

Saat ini pun tim pencari fakta baik yang dibentuk oleh pemerintah maupun yang di bentuk oleh koalisi masyarakat sipil terus melakukan investigasi mengumpulkan berbagai informasi terkait tragedi Kanjuruhan ini. Artinya informasi yang disampaikan kepolisian bukan lah satu satunya informasi yang valid atas peristiwa ini.

Presiden Jokowi dalam kampanyenya pernah berjanji akan memajukan dunia sepak bola di tanah air. Bahkan dia mengatakan siap potong leher jika gagal memajukan dunia sepak bola tanah air. Namun janji tinggallah janji.

Tragedi Kanjuruhan ini menjadi momentum publik mempertanyakan janji kampanye presiden tersebut. Jika tragedi Kanjuruhan ini tidak diselesaikan secara transparan dan terbuka maka ini akan menjadi api dalam sekam yang kapanpun akan dapat terbakar hebat karena ratusan nyawa sudah melayang akibat tragedi ini.

Temukan juga kami di Google News.