TELUK WONDAMA — Teluk Wondama, yang dikenal dengan Wasior dan Wandamen, merupakan wilayah yang terletak di pesisir Teluk Cenderawasih. Secara geografis dan kultural, Wondama memiliki posisi strategis sebagai ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang suku dan budaya yang beragam, termasuk yang berasal dari kawasan adat Saireri, Bomberai, Domberai, dan Meepago.

Sejak dahulu, Wondama, khususnya masyarakat Suku Wandamen, dikenal memiliki kekayaan adat istiadat, budaya, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Keberagaman tersebut merupakan modal penting yang dapat dikembangkan menjadi potensi daerah, baik dalam memperkuat identitas masyarakat adat maupun mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Kebudayaan dan adat istiadat dapat menjadi kekuatan positif bagi pembangunan daerah apabila seluruh kelompok masyarakat adat, baik suku maupun subsuku, mampu hidup berdampingan secara damai dan bekerja sama dalam menjaga serta mengembangkan warisan leluhur.

Adat merupakan kekayaan yang memiliki nilai luhur dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat adat. Namun, hingga saat ini, peran masyarakat adat masih perlu diperkuat dalam proses transformasi sosial dan pelaksanaan agenda pembangunan daerah. Padahal, masyarakat adat merupakan elemen penting yang semestinya dirangkul dan dilibatkan dalam setiap perencanaan maupun pelaksanaan pembangunan, khususnya di Tanah Papua dan Kabupaten Teluk Wondama.

Kabupaten Teluk Wondama memiliki enam suku dan lima subsuku yang menjadi bagian dari kekayaan identitas masyarakat adat setempat. Keberagaman tersebut perlu dirawat melalui semangat persatuan, kebersamaan, dan saling menghormati agar tidak tergerus oleh perbedaan kepentingan yang berpotensi memicu perpecahan.

Atas dasar tersebut, kalangan pemuda adat merasa perlu mempersiapkan dan menyelenggarakan Konferensi Daerah (Konferda) I Pemuda Adat Daerah Wondama sebagai momentum untuk mempererat persatuan, memperkuat peran pemuda, serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga dan memperjuangkan kepentingan masyarakat adat.

Konferda I Pemuda Adat Daerah Wondama dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 8 Oktober 2026, di Kabupaten Teluk Wondama. Menjelang pelaksanaan kegiatan tersebut, Ketua Panitia Pelaksana, Frans B.M. Korwam, S.H., M.M., menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda adat Wondama saat dihubungi awak media.

“Wondama adalah tanah yang menyimpan sejarah, adat, budaya dan identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kini saatnya pemuda adat daerah Wondama berdiri bersama. Bukan hanya sebagai generasi penerus, tetapi sebagai generasi yang memahami, menjaga dan memperjuangkan nilai-nilai adat serta masa depan tanah leluhur,” ujar Frans B.M. Korwam.

Menurutnya, pemuda adat memiliki peran strategis sebagai corong aspirasi masyarakat adat di setiap wilayah. Pemuda diharapkan mampu memahami kebutuhan dan harapan masyarakat, menjaga nilai-nilai budaya, serta menjadi penghubung antara masyarakat adat dan berbagai pihak yang terlibat dalam pembangunan daerah.

Oleh karena itu, menjaga persatuan dan memperkuat solidaritas antarkelompok masyarakat adat merupakan tanggung jawab bersama. Semangat tersebut perlu diwujudkan melalui pelayanan kemanusiaan, penghormatan terhadap keberagaman, serta komitmen untuk mendorong kemajuan bersama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Melalui Konferda I Pemuda Adat Daerah Wondama, diharapkan lahir semangat baru bagi generasi muda untuk mengambil bagian dalam menjaga warisan leluhur, memperkuat persatuan masyarakat adat, dan memperjuangkan masa depan Teluk Wondama yang lebih baik tanpa meninggalkan identitas budaya yang menjadi jati diri masyarakatnya.