JAKARTA — Berawal dari persoalan sampah yang menumpuk dan mengganggu kenyamanan warga, RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, bertransformasi menjadi lingkungan yang lebih bersih, aman, dan produktif. Perubahan tersebut dilakukan melalui gotong royong warga, pembenahan kawasan, serta penerapan inovasi berbasis teknologi untuk menjawab persoalan lingkungan.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Komposter Keliling (Komling), sebuah program pengelolaan sampah organik yang melibatkan warga secara terjadwal. Program ini menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan mengelola sampah secara bertanggung jawab sekaligus memperkuat kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.
Ketua RT 11, Imam Basori, yang akrab disapa Ibas, mengatakan pembenahan lingkungan dimulai sejak dirinya menjabat sebagai ketua RT pada 2019. Saat itu, salah satu lokasi yang kini menjadi pusat aktivitas warga masih digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, termasuk oleh orang-orang dari luar lingkungan.
Kondisi tersebut membuat kawasan terlihat kumuh dan mengurangi kenyamanan masyarakat. Bersama warga, Ibas kemudian memulai pembenahan melalui kerja bakti dan penataan area yang sebelumnya dipenuhi tumpukan sampah.
Langkah tersebut menjadi titik awal perubahan lingkungan RT 11. Area yang semula tidak terawat secara bertahap ditata agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan warga, termasuk aktivitas sosial dan pendidikan.
Dalam mengatasi persoalan sampah, pengurus RT bersama masyarakat tidak hanya mengandalkan kegiatan bersih-bersih, tetapi juga berupaya mencari sistem pengelolaan yang sesuai dengan kondisi permukiman padat.
Ibas menjelaskan, gagasan pengelolaan sampah berbasis teknologi muncul setelah pengurus mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan. Salah satu alternatif yang sempat dipertimbangkan adalah pembuatan lubang komposter berukuran besar atau teba untuk mengolah sampah organik.
Namun, keterbatasan lahan menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua warga memiliki tanah sendiri, sementara sebagian lainnya tinggal di rumah kontrakan. Pembuatan lubang komposter di titik tertentu juga berpotensi menimbulkan keberatan apabila lokasinya berdekatan dengan rumah warga.
“Kita melihat permasalahan, dan pendekatan kita transformasi teknologi. Revolusi 4.0. Mau nggak mau kan kita bawa permasalahan yang ada, khususnya pada permasalahan sampah, kita jawab dengan teknologi,” ujar Ibas.
Dari proses identifikasi dan diskusi bersama warga tersebut, lahirlah gagasan Komling sebagai pendekatan pengelolaan sampah organik yang menyesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Komling Libatkan Warga secara Bergiliran
Komling dijalankan melalui sistem terjadwal, dengan warga memperoleh giliran untuk menjalankan tugas pengelolaan sampah. Pola ini mendorong keterlibatan masyarakat secara langsung, sehingga tanggung jawab menjaga kebersihan tidak hanya dibebankan kepada pengurus RT atau petugas tertentu.
Melalui pelibatan warga, pengelolaan sampah diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Masyarakat tidak sekadar menikmati lingkungan yang bersih, tetapi turut berperan dalam menjaga dan mempertahankannya.
Program ini juga menjadi contoh bagaimana persoalan lingkungan dapat ditangani melalui perpaduan inovasi, kedisiplinan, dan gotong royong. Teknologi digunakan sebagai pendekatan untuk membantu menjawab kendala nyata, sementara keberhasilan pelaksanaannya tetap membutuhkan partisipasi masyarakat.
Bagi RT 11, kebersihan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kualitas hidup warga. Penataan kawasan, pengelolaan sampah, dan penguatan kepedulian sosial menjadi bagian dari pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.
Empat Pilar Transformasi RT 11
Pembenahan lingkungan merupakan bagian dari visi Ibas dalam membangun empat pilar utama RT 11, yakni keamanan, lingkungan, pendidikan, dan ekonomi. Keempat pilar tersebut dikembangkan secara bertahap agar saling mendukung dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pada pilar keamanan, RT 11 telah menghadirkan sejumlah inovasi, antara lain E-Gate 11, CCTV, sistem komunikasi Si Jaga Warga, serta panic button. Berbagai fasilitas tersebut dirancang untuk meningkatkan pengawasan lingkungan dan membantu warga merespons situasi darurat.
Di bidang pendidikan, warga didorong untuk membiasakan diri menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Program Erte English dikembangkan melalui kerja sama dengan pengajar dari Kampung Inggris, Pare, Kediri, untuk memberikan pembelajaran kepada warga dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga lansia.
Sementara itu, pilar ekonomi diarahkan pada pengembangan potensi usaha warga dan penciptaan peluang pendapatan berbasis lingkungan. Berbagai inisiatif tersebut diharapkan dapat menjadikan kawasan tidak hanya nyaman untuk ditinggali, tetapi juga produktif dan memiliki daya tarik bagi masyarakat dari luar.
Transformasi RT 11 Gandaria Utara menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari persoalan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari lokasi yang dahulu menjadi tempat pembuangan sampah, warga berupaya membangun kawasan yang lebih tertata melalui kolaborasi, inovasi teknologi, dan partisipasi bersama.
Ke depan, konsistensi warga dalam menjalankan program kebersihan dan menjaga fasilitas lingkungan menjadi kunci agar perubahan tersebut tidak berhenti sebagai pembenahan sesaat, melainkan berkembang menjadi budaya hidup bersih, aman, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan