Oleh: Ayik Heriansyah
Di tengah krisis ekonomi yang semakin mencekik, acara “Reconnect + Disconnect” yang diselenggarakan komunitas Yuk Ngaji yang berafiliasi dengan HTI menunjukkan bagaimana propaganda khilafah kini dikemas layaknya konser, lengkap dengan sistem VIP, CAT 1, hingga CAT 4. Dengan harga tiket hampir tertinggi 1998K dan terendah 399K menandakan pergeseran “dakwah” menjadi industri gaya hidup religius perkotaan.
Yuk Ngaji selama ini dikenal sebagai komunitas dakwah anak muda underbouw HTI. Meski tampil dengan pendekatan kreatif, santai, dan modern, pola dakwahnya kerap membawa tema tentang identitas umat, kebangkitan Islam politik, dan romantisme kejayaan khilafah yang dikemas lebih populer untuk generasi muda urban.
Harga tiket yang mahal secara otomatis menyaring peserta berdasarkan kelas sosial. Dalam situasi ekonomi sekarang, sangat sulit membayangkan buruh, santri kampung, mahasiswa biasa, atau rakyat kecil mampu mengikuti acara semacam itu. Peserta yang realistis hadir adalah anak pejabat, keluarga aparat, pengusaha besar, dan kelas menengah atas yang masih memiliki daya beli tinggi.
Event ini menunjukkan bahwa dakwah mulai bergerak mengikuti logika pasar. Agama tidak lagi hanya disampaikan sebagai ajaran, tetapi dikomersialisasi sebagai pengalaman emosional dan simbol identitas sosial. Dakwah berubah menjadi industri.
Khilafatainment bekerja dengan pendekatan psikologis kelas menengah urban. Anak muda digiring untuk merasa menjadi bagian dari komunitas “spesial”, religius, modern, dan berbeda dari masyarakat umum. Kesalehan berubah menjadi simbol status dan gaya hidup.
Dalam konteks ini, mahalnya harga tiket dapat dibaca sebagai mekanisme seleksi sosial. Semakin mahal tiketnya, semakin terbentuk kesan bahwa peserta adalah kelompok elite terpilih. Dakwah akhirnya memproduksi kelas elite baru.
Gejala ini menarik jika dihubungkan dengan konsep khatrul thabaqi (bahaya kelas) dalam kitab Al-Takattul Al-Hizbi karya Taqiyuddin an-Nabhani. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa “bahaya kelas” adalah kondisi ketika anggota partai merasa memiliki status sosial eksklusif atau lebih tinggi dibanding masyarakat umum. Situasi ini muncul ketika kelompok merasa menjadi wakil umat, dihormati, dan dimuliakan, sehingga melahirkan sikap elitis di kalangan aktivis.
Apa yang diperingatkan dalam konsep “bahaya kelas” itu tampak menemukan relevansinya dalam fenomena dakwah premium dari komunitas Yuk Ngaji saat ini. Ketika ruang dakwah semakin eksklusif dan hanya diakses kelompok tertentu, maka perlahan terbentuk jarak psikologis antara aktivis dengan masyarakat umum. Mereka tidak lagi hidup bersama umat bawah, tetapi membangun ekosistem sosial sendiri yang lebih homogen secara ekonomi dan gaya hidup.
Fenomena khilafatainment memperlihatkan bagaimana agama dapat berubah menjadi industri identitas kelas menengah atas. Dakwah tidak lagi sekadar soal penyebaran nilai, tetapi juga soal citra, prestise, jejaring sosial, dan gaya hidup.
Pertanyaannya kemudian: apakah ini masih dakwah untuk umat, atau sudah menjadi industri spiritual bagi anak muda kelas menengah ke atas yang ingin tampil saleh sekaligus eksklusif?


Tinggalkan Balasan