Sleman – PT Asterra Energy Envirotama (AEE) resmi memulai langkah strategis dalam penanganan sampah anorganik dengan menggelar seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan plant pirolisis sampah plastik berkapasitas 5 ton per hari (5TPD), pada Minggu (17/5/2926) yang berlokasi di Jl. Wates Km.7, Perengkembang, Balecatur, Gamping, Sleman, proyek ini mencetak sejarah sebagai fasilitas pirolisis sampah plastik skala industri pertama di Indonesia.
Fasilitas ini berdiri di atas lahan seluas 1.008 meter persegi di kawasan milik BUMD PT Anindya Mitra International. Pembangunan ini ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada November 2026 mendatang, dengan pengiriman perdana produk hasil olahan dijadwalkan pada Desember 2026.
Direktur Utama PT Asterra Energy Envirotama, Uyung Pramudiyanto, menegaskan bahwa kehadiran plant pirolisis ini dirancang untuk menjawab tantangan tata kelola sampah tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Melalui inovasi teknologi ini, pengelolaan sampah tidak lagi memerlukan skema tipping fee, melainkan mampu mandiri secara ekonomi.
Dalam sambutannya, Uyung menekankan bahwa kunci keberhasilan ekosistem ini berada di tangan para pelaku pengelolaan sampah di tingkat tapak.
“Garda terdepan operasional plant pirolisis kapasitas 5TPD ini adalah para pegiat sampah, terutama Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), koperasi, dan bank sampah,” ujar Uyung Pramudiyanto.
Fasilitas ini nantinya akan menyerap sampah plastik bernilai ekonomi rendah, yang selama ini kerap menumpuk dan mencemari lingkungan, dari seluruh wilayah Yogyakarta untuk diolah menjadi produk bernilai guna tinggi.
Langkah strategis PT Asterra Energy Envirotama ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Pemerintah Kota Yogyakarta. Wawan Harmawan, Wakil Walikota Yogyakarta yang juga menjabat sebagai Koordinator Wilayah Tengah DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Pusat, menyampaikan bahwa proyek ini menjadi angin segar di tengah desentralisasi pengelolaan sampah pasca tidak optimalnya TPA Piyungan sejak 2024.
“Kami ucapkan selamat atas peletakan batu pertama plant pirolisis pengolahan sampah plastik berskala industri pertama dari PT Asterra Energy Envirotama ini. Semoga dapat menjadi bagian dari wujud upaya kita bersama untuk menyelesaikan permasalahan persampahan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya,” tutur Wawan Harmawan.
Wawan memaparkan, Kota Yogyakarta memproduksi rata-rata lebih dari 300 metrik ton sampah per hari. Lewat berbagai gerakan hulu seperti Mas JOS (Masyarakat Jogja Olah Sampah), Biopori Jumbo, dan optimalisasi TPS3R Nitikan, Kranon, serta Karangmiri, volume sampah telah berhasil ditekan lebih dari 100 ton per hari.
“Pembangunan plant pirolisis ini diharapkan dapat berkontribusi menyelesaikan masalah sampah di hilirnya, sekaligus menggerakkan semangat pemilahan sampah di Kota Jogja sebagai budaya sehari-hari. Sampah anorganik memiliki nilai ekonomi yang memberikan manfaat langsung ke masyarakat jika dikelola dengan tepat,” tambahnya.
Menjamin keberlanjutan bisnis dari hulu ke hilir, plant pirolisis 5TPD ini diproyeksikan mampu memproduksi hingga 3.000 liter minyak bakar per hari yang akan diserap langsung oleh sektor industri.
Komitmen ini diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dilakukan bersamaan dengan acara groundbreaking antara PT Asterra Energy Envirotama dengan Semen Gresik melalui PT Konsulta Semen Gresik sebagai off-taker (pembeli siaga) resmi produk minyak bakar hasil pirolisis tersebut.
Proyek di Yogyakarta ini merupakan langkah awal dari visi besar Atasi Darurat Sampah Yogyakarta, PT Asterra Energy Envirotama Bangun Plant Pirolisis Skala Industri Pertama di IndonesiaAsterra Energy Envirotama. Setelah fase 5TPD berjalan optimal, perusahaan mentargetkan pengembangan kapasitas (up-scaling) hingga mencapai 40 ton per hari (40TPD) pada tahap berikutnya.
Ke depan, plant pirolisis di Yogyakarta ini diharapkan mampu menjadi model percontohan (pilot project) nasional bagi pemerintah daerah di seluruh Indonesia dalam mewujudkan tata kelola sampah berkelanjutan yang ramah lingkungan, terintegrasi, dan berbasis kemandirian ekonomi.


Tinggalkan Balasan