Oleh: Ayik Heriansyah
Pasca pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh pemerintah 2017, gerakan ini tidak benar-benar hilang dari ruang publik. Yang berubah adalah pola geraknya. Jika dahulu narasi khilafah disampaikan secara terbuka melalui aksi dan kampanye di ruang publik, kini pendekatan sosial dan pendidikan lebih banyak digunakan untuk membangun kembali penerimaan masyarakat.
Fenomena ini dapat dibaca melalui teori present bias dalam Behavioral Economics. Teori yang dipelopori George Ainslie dan dipopulerkan Richard Thaler ini menjelaskan bahwa manusia cenderung lebih tertarik pada manfaat langsung dibanding memikirkan implikasi jangka panjang.
Dalam konteks sosial-keagamaan, masyarakat lebih mudah menerima lembaga yang menawarkan manfaat nyata seperti sekolah Islam, rumah tahfiz, bantuan sosial, pembangunan masjid, atau pelayanan kemanusiaan dibanding diskusi panjang tentang ideologi khilafah yang abstrak dan politis.
Karena itu, jalur pendidikan dan kegiatan sosial menjadi medium yang efektif untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Ketika sebuah kelompok hadir membantu kebutuhan umat sehari-hari, maka yang terlihat pertama kali adalah sisi kepedulian, bukan orientasi ideologinya.
Di berbagai daerah, HTI cukup aktif dalam kegiatan recovery pascabencana. Mereka terlibat dalam penggalangan dana, distribusi logistik, dapur umum, trauma healing, renovasi rumah ibadah, hingga pembangunan fasilitas pendidikan di wilayah terdampak bencana.
Aktivitas seperti ini sangat efektif membangun legitimasi sosial. Masyarakat yang sedang mengalami kesulitan biasanya lebih fokus pada bantuan nyata yang mereka terima daripada mempersoalkan latar belakang ideologi kelompok yang datang membantu.
Pembangunan masjid juga memiliki dampak sosial yang besar. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat komunitas, pengajian, pembinaan umat, dan pembentukan pengaruh sosial. Ketika sebuah kelompok aktif membangun dan menghidupkan masjid, maka hubungan emosional dengan masyarakat akan terbentuk secara perlahan.
Dalam teori present bias, manusia cenderung memprioritaskan manfaat yang terasa sekarang dibanding mempertimbangkan kemungkinan dampak jangka panjang. Karena itu, bantuan sosial, pendidikan murah, dan pembangunan fasilitas ibadah lebih mudah membangun simpati publik dibanding narasi politik formal.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui model hyperbolic discounting. Model tersebut menjelaskan bahwa manusia memberi nilai lebih tinggi pada manfaat yang langsung dirasakan sekarang daripada manfaat atau risiko yang masih jauh di masa depan.
Strategi sosial yang dilakukan HTI dengan menggunakan pelayanan sosial sebagai sarana membangun loyalitas dan penerimaan masyarakat. Karena sadar bahwa pengaruh tidak selalu dibangun melalui pidato politik, tetapi juga melalui pelayanan, pendidikan, dan kedekatan sosial.
Dalam konteks Indonesia, strategi ini menjadi efektif karena masyarakat Muslim memiliki perhatian besar terhadap pendidikan agama, pembangunan masjid, dan solidaritas kemanusiaan. Kelompok yang aktif membantu umat biasanya lebih mudah memperoleh legitimasi moral di tengah masyarakat.
Karena itu, radikalisasi tidak lagi hanya berlangsung di ruang politik secara terbuka. Radikalisasi yang lebih halus melalui sekolah, komunitas sosial, kegiatan kemanusiaan, dan pelayanan masyarakat.
Present bias masyarakat sering kali lebih fokus pada manfaat langsung hari ini tanpa banyak memikirkan kemungkinan arah ideologis jangka panjang yang sedang dibangun. Ini menjadi tantangan bagi kegiatan dan program deradikalisasi pasca pencabutan badan hukum HTI.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan