Oleh: Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed

Studi sejarah seringkali menjadi sumber inspirasi, dan peristiwa Malari. 15 Januari 1974 merupakan satu babak penting dalam sejarah Indonesia yang tidak hanya menyentuh politik, tetapi juga menciptakan gelombang perubahan sosial. Sebagai mahasiswa yang tengah mengejar cita-cita dan menyelesaikan studi, kisah Malari menyisakan pelajaran berharga tentang keberanian, perlawanan, dan konsekuensi perjuangan.

Masa Kelam Menuju Puncak Malari

Sebelum mencapai puncak Malari, banyak peristiwa yang membentuk landasan perlawanan. Mulai dari Deklarasi Golput 1972 hingga protes pembangunan TMII 1972, serta kerusuhan rasialis di Bandung pada Agustus 1973. Semua itu menjadi prolog bagi peristiwa Malari yang memuncak saat kunjungan PM Jepang Tanaka Kakuei ke Jakarta. Mahasiswa UI yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Hariman Siregar mengambil langkah berani menentang dominasi modal asing, terutama yang diwakili oleh Jepang.

Teriakan Mahasiswa yang Mengejutkan Dunia

Dalam semangat perlawanan, mahasiswa bergerak dalam long march dari Kampus UI di Salemba menuju Kampus Trisakti di Grogol. Mereka menyuarakan tuntutan dalam maklumat Tritura 1974, menyerukan penurunan harga-harga, pembubaran aspri, dan hukuman bagi koruptor. Patung PM Jepang Tanaka Kakuei pun terbakar sebagai simbol protes yang menggelegar.

Kerusuhan dan Tindakan Tegas

Demonstrasi yang berangsur menjadi ricuh memicu kerusuhan sosial di seluruh Jakarta. Mobil-mobil Jepang dihancurkan, toko-toko dijarah, dan situasi semakin tak terkendali. Presiden Soeharto mengambil tindakan tegas dengan mengerahkan pasukan elit ABRI. Akibatnya, 11 orang meninggal, ratusan orang terluka, dan ribuan ditahan. Jakarta dilanda kegelapan dengan diberlakukannya jam malam, serta penangguhan aktivitas di semua universitas.

Inspirasi Melalui Perlawanan membangkitkan Semangat

Bertahun-tahun setelah peristiwa Malari, para aktivis mahasiswa diam-diam merayakan semangat perlawanan itu. Peristiwa ini menjadi kebangkitan kedua mahasiswa Indonesia sejak tahun 1966, memicu kesadaran akan pentingnya menentang dominasi dan kapitalisasi asing. Meski kisah ini pahit, namun menjadi sumber inspirasi bagi kita yang tengah mengejar cita-cita melalui pendidikan.

Jadikan MALARI Semangat Perubahan

Bagaimana Malari dan kapitalisasi asing dapat memberikan inspirasi bagi perjalanan studi kita? Perjuangan melawan dominasi asing mengajarkan kita tentang keberanian, solidaritas, dan ketegasan dalam memperjuangkan hak-hak kita. Dalam menyelesaikan studi, kita dapat meresapi semangat itu dengan membangun kesadaran akan pentingnya keberanian dalam mengejar impian.

Saat ini, kita dapat menerapkan semangat perubahan dari Malari sebagai dorongan untuk terus belajar, berkembang, dan menjadi agen perubahan positif di tengah tantangan global. Melalui dedikasi dalam studi, kita tidak hanya mengejar gelar akademis, tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk berkontribusi pada masyarakat.

Dengan semangat Malari, marilah kita menyelesaikan studi dengan penuh dedikasi, membangun pengetahuan, dan menjadikan diri kita sebagai agen perubahan yang mampu mengatasi tantangan masa depan. Sebab, dalam setiap perjuangan, terdapat kekuatan untuk menciptakan inspirasi yang mengubah dunia.