Jakarta – Pengamat Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto menilai pernyataan Kapolri Listyo Sigit Prabowo terkait estafet kepemimpinan sangat multi tafsir.

Apalagi saat ini menjelang pemilihan umum (Pemilu), sehingga muncul persepsi-persepsi liar. Menurutnya, estafet kepemimpinan itu keniscayaan dalam sebuah sistem negara.

“Hanya saja, ketika Kapolri juga menyampaikan pernyataan terkait meneruskan kepemimpinan bisa dipersepsi ada dikotomi, adanya kandidat penerus kepemimpinan dengan perubahan kepemimpinan. Inilah yang menyebabkan munculnya polemik, apalagi di tengah sorotan terkait netralitas Polri yang sudah diamanahkan undang-undang,” tegasnya, hari ini.

Pernyataan tersebut, kata dia, tentu juga bisa dipahami sebagai arahan politik kemana keinginan Kapolri pada suksesi kepemimpinan nanti.

“Tentu tak elok jika hal tersebut disampaikan seorang Kapolri yang diberi kewenangan negara untuk menjaga kamtibmas dan penegak hukum yang seharusnya bersikap netral,” ujarnya.

Ia juga meminta agar Kapolri tetap ingat soal semboyan Bhinneka Tunggal Ika, bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan di negeri ini, termasuk perbedaan pandangan politik.

“Yang terpenting bagi kepolisian adalah menjaga agar perbedaan-perbedaan tersebut tak membelokan arah dari tujuan bernegara seperti amanah UUD 1945,” pungkasnya.