JAKARTA – Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI) mengapresiasi keberhasilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam merilis mars dan hymne KPK sebagai bentuk hasil karya cipta seni yang dapat di banggakan oleh seluruh insan KPK.

Mengenai adanya kritikan dari pihak lain, menurut Koordinator LAKSI Azmi Hidzaqi, sangat tidak mendasar, mestinya berbagai pihak tidak perlu menuduh apalagi sampai meributkan persoalan ini.

“Karena tidak ada yang salah dengan proses penciptaan lagu mars KPK tersebut, justru seharusnya publik memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas karya cipta yang telah diciptakan oleh istri Ketua Firli Bahuri tersebut,” ungkap Azmi, hari ini.

Pihaknha sangat mendukung seorang istri Ketua KPK Ardina Safitri yang telah berpartisipasi dalam pemberantasan korupsi dengan menyumbangkan lagunya. Apalagi, menurutnya, lembaga antirasuah sama sekali tidak membayar lagu tersebut dan hak cipta lagu mars dan himne diberikan pula ke lembaga KPK.

“Hak cipta lagu itu sebagai bagian dari identitas kelembagaan. Besar harapan kami dengan kehadiran mars dan hymne KPK ini dapat membangkitkan semangat seluruh Insan KPK,” tuturnya lagi.

Selain itu, kata dia, punya rasa memiliki yang utuh dengan mengimplementasikan pesan-pesan dalam lagu tersebut. Menumbuhkan semangat dalam bekerja dan berkarya untuk Indonesia melalui pemberantasan korupsi.

Menurut informasi yang di dapatkan bahwa KPK hampir 20 tahun, belum memiliki lagu mars dan hymne. Maka sangat wajar apabila KPK saat ini mempunyai lagu mars dan hymne KPK untuk membuat kebanggaan tersendiri terhadap lembaga nya.

Perlu di ketahui bahwa lembaga antirasuah sesuai kewenangan Undang-undang KPK nomor 19 tahun 2019 hasil revisi, pegawai KPK sudah diangkat menjadi ASN.

“Oleh karena itu instansi pemerintah perlu juga memiliki lagu mars sebagai bentuk apresiasi dan kecintaan terhadap lembaganya, dan sebagai bagian dari identitas kelembagaan,” pungkasnya.