JAKARTA – Momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa perubahan bangsa tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kepedulian dan aksi nyata masyarakat dari lingkungan terkecil.

Semangat itulah yang dibawa Iptu Imam Basori, atau yang akrab disapa Ibas, Ketua RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sekaligus inovator Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan), saat mendorong warga Kalibata untuk berani melakukan perubahan di lingkungan masing-masing.

Dalam pesannya, Ibas mengajak masyarakat agar tidak sekadar memperingati Sumpah Pemuda melalui seremoni, tetapi menjadikan momentum tersebut sebagai dorongan untuk membangun kebersamaan, meningkatkan kepedulian sosial, dan menciptakan lingkungan yang lebih baik.

“Jangan menunggu jadi pejabat untuk berbuat. Jangan menunggu kaya untuk berkarya. Dan jangan menunggu lingkungan bermasalah baru kita peduli,” menjadi pesan motivasi yang ditekankan dalam ajakannya kepada warga.

Menurutnya, semangat gotong royong harus diwujudkan melalui tindakan konkret. Mulai dari menjaga keamanan lingkungan, mengelola sampah secara bertanggung jawab, hingga memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.

Bang Jali, Contoh Perubahan dari Lingkungan Terkecil

Melalui inovasi Bang Jali, Ibas memperkenalkan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan keamanan, pengelolaan lingkungan, pendidikan, dan penguatan ekonomi warga.

Di bidang keamanan, warga didorong untuk memperkuat sistem pengamanan lingkungan melalui kolaborasi dan pemanfaatan teknologi. Di bidang lingkungan, pengelolaan sampah dikembangkan melalui inovasi seperti KOMA (Komposter Mandiri), Komling (Kompos Keliling), dan Smart Geprek untuk pemadatan sampah anorganik.

Sementara itu, pada bidang pendidikan, program RT Inggris atau Erte English menjadi salah satu upaya menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris lebih dekat dengan masyarakat, termasuk anak-anak dan warga yang ingin meningkatkan keterampilan berkomunikasi.

Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dengan anggaran besar atau menunggu program dari pihak lain. Dengan kreativitas, kerja sama, dan komitmen bersama, masyarakat dapat mengembangkan solusi sesuai kebutuhan lingkungannya.

Warga Kalibata Diajak Menjadi Pelaku Perubahan

Dalam pesannya, Ibas juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton ketika perubahan terjadi.

“Kalau bukan kita yang mengubah, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” menjadi ajakan untuk membangun kesadaran bahwa kemajuan lingkungan membutuhkan keterlibatan seluruh warga.

Ia berharap momentum Sumpah Pemuda dapat memperkuat persatuan lintas generasi dan wilayah. Perbedaan latar belakang maupun tempat tinggal, menurut semangat yang disampaikannya, tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman, bersih, dan produktif.

Semangat tersebut dirangkum dalam seruan: “Kalibata harus bergerak, warganya harus kompak, lingkungannya harus naik kelas!”

Pesan itu menjadi pengingat bahwa semangat kepemudaan tidak hanya milik mereka yang berusia muda. Keberanian untuk berinisiatif, kepedulian terhadap sesama, dan kemauan memperbaiki keadaan merupakan nilai yang dapat dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pada akhirnya, peringatan Sumpah Pemuda bukan hanya tentang mengenang perjuangan generasi terdahulu, tetapi juga tentang melanjutkan semangat persatuan melalui karya dan tindakan nyata.

Dari satu rumah, satu RT, hingga satu RW, perubahan dapat tumbuh ketika masyarakat memilih untuk bergerak bersama.

Berani Bergerak, Berani Berubah, Bersama Kita Bisa. Semangat inilah yang ingin terus ditularkan melalui inovasi Bang Jali, agar semakin banyak lingkungan di Indonesia tergerak membangun perubahan dari wilayahnya sendiri.