JAKARTA – Peran biogas di Indonesia dinilai semakin penting dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menekan pencemaran lingkungan. Di tengah upaya pemerintah mencapai target Net Zero Emissions (NZE), pengembangan biogas disebut menjadi salah satu solusi yang mampu menjawab tantangan energi dan pengelolaan limbah secara bersamaan.
Ketua Asosiasi Biogas Indonesia (ABgI), Muhammad Abdul Kholiq, mengatakan bahwa perhatian terhadap biogas terus meningkat sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam memenuhi target pengurangan emisi yang disepakati dalam Paris Agreement 2015.
“Peran biogas di Indonesia mendapatkan atensi yang lebih besar sebagai bagian dari upaya pencapaian target Net Zero Emissions sesuai Paris Agreement tahun 2015,” kata Abdul Kholiq, Jumat 19 Juni 2026.
Menurutnya, keunggulan utama biogas terletak pada kemampuannya mengolah limbah organik menjadi sumber energi terbarukan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan.
“Pengolahan limbah organik, a.l. limbah pabrik kelapa sawit atau POME, limbah pabrik tapioka, dan limbah organik lainnya, menjadi biogas berarti pengurangan beban pencemaran ke lingkungan, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan perolehan biogas sebagai energi terbarukan,” ujarnya.
Abdul Kholiq menjelaskan, pemanfaatan biogas dapat dilakukan mulai dari skala rumah tangga hingga industri besar. Pada skala kecil, biogas yang dihasilkan dari kotoran ternak, limbah tahu, maupun limbah organik lainnya lazim digunakan sebagai bahan bakar kompor untuk kebutuhan rumah tangga.
Sementara itu, pada skala industri, biogas dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti gas alam maupun batu bara, termasuk untuk pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg), program co-firing, hingga produksi BioCNG atau compressed biomethane (CBM).
Melalui skema co-firing, pabrik kelapa sawit juga dapat mengurangi penggunaan cangkang sawit sebagai sumber energi internal sehingga komoditas tersebut dapat dialihkan untuk kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.
Selain itu, biogas juga dapat ditingkatkan kualitasnya melalui proses upgrading untuk memisahkan kandungan karbon dioksida (CO2) dan menghasilkan biomethane yang karakteristiknya serupa dengan gas alam. Kondisi ini memungkinkan pemanfaatan infrastruktur dan sistem distribusi yang selama ini digunakan untuk natural gas.
Potensi Besar, Pemanfaatan Masih Terbatas
ABgI menilai Indonesia memiliki potensi bahan baku biogas yang sangat melimpah. Namun hingga kini pemanfaatannya masih jauh dari optimal.
Abdul Kholiq mengungkapkan bahwa dari sekitar 1.000 pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di Indonesia, baru sekitar 10 persen atau bahkan kurang yang telah memiliki instalasi biogas.
Padahal, sumber bahan baku biogas tidak hanya berasal dari limbah kelapa sawit, tetapi juga limbah industri tapioka, limbah pertanian, kotoran ternak, hingga sampah organik rumah tangga dan pasar tradisional.
Sebagai perbandingan, sejumlah negara telah lebih dulu mengembangkan teknologi biogas secara masif. Untuk skala rumah tangga, China, India, dan Nepal menjadi contoh negara dengan penerapan digester biogas yang luas.
“Kita boleh bangga telah membangun 45-50 ribuan digester biogas, namun India menargetkan 60 ribuan digester biogas dalam setahun,” tambah Abdul Kholiq.
Sementara untuk biogas skala industri, negara-negara Eropa seperti Jerman, Austria, dan Belanda menjadi rujukan keberhasilan pemanfaatan energi berbasis limbah organik.
“Di Jerman para pengelola instalasi biogas sampai berrebut mendapatkan bahan baku berupa limbah atau sampah organik. Mereka sampai menanam tanaman jagung yang mereka simpan dalam bentuk silage untuk persediaan bahan baku reaktor biogas mereka,” ujarnya.
Pengembangan Biogas Butuh Penguatan Ekosistem
Meski prospeknya dinilai cerah, pengembangan biogas di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari fokus industri kelapa sawit yang masih terpusat pada produksi crude palm oil (CPO), keterbatasan akses jaringan listrik di lokasi pabrik, hingga kesiapan sumber daya manusia untuk mengoperasikan instalasi biogas.
Namun demikian, Abdul Kholiq melihat tren pengembangan biogas menunjukkan arah yang positif. Salah satu pendorongnya adalah meningkatnya tuntutan global terhadap praktik industri yang lebih ramah lingkungan.
“Namun tren biogas saat ini semakin positif, antara lain tuntutan sertifikasi industri ramah lingkungan dari dunia internasional. Dan untuk mendapat sertifikat ini, industri agro harus mengolah limbahnya. Dan teknologi biogas adalah bentuk pengolahan limbah organik yang paling efektif dan efisien,” jelasnya.
Karena itu, ABgI mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem pengembangan biogas nasional agar pemanfaatannya dapat tumbuh lebih cepat dan berkelanjutan.
“Untuk pengembangan biogas di Indonesia perlu penguatan ekosistem dan sinergi antar pihak. Pemerintah, industri atau swasta baik pengembang maupun user, lembaga pendanaan baik perbankan maupun non perbankan, termasuk pendanaan hijau/green financing, akademik dan lembaga riset, dan juga media perlu bahu-membahu, bekerjasama mendorong penerapan teknologi biogas yang lebih masif di Indonesia,” tegas Abdul Kholiq.


Tinggalkan Balasan