JAKARTA – Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) menilai tantangan terbesar sektor energi nasional saat ini bukan hanya soal menambah pasokan energi, tetapi juga mengendalikan tingkat konsumsi yang terus meningkat.
Ketua Umum MASKEEI, Andhika Prastawa, mengatakan selama ini pembahasan energi di Indonesia lebih banyak berfokus pada sisi pasokan (supply), sementara aspek permintaan (demand) dan efisiensi energi masih kurang mendapat perhatian.
“Terlihat bicara isu energi hanya bicara dari sisi supply, bicara untuk menghadirkan suplai energi di Indonesia, akan tetapi sisi demand-nya tidak banyak dibahas, bagaimana soal efisiensi energi di gedung-gedung, efisiensi energi di sektor transportasi, sehingga perilaku masyarakat Indonesia saat ini menjadi boros dalam memanfaatkan energi yang ada di Indonesia,” ujar Andhika.
Menurutnya, di tengah ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi sektor energi dunia, Indonesia perlu memperkuat strategi konservasi dan efisiensi energi guna menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan energi nasional.
Andhika menilai konservasi energi bukan sekadar program penghematan, melainkan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan energi nasional di masa depan.
“Saat ini kita masih bergantung dengan sumber energi fosil, terlihat juga ada pemanfaatan EBT (Energi Baru Terbarukan), namun dengan laju pertumbuhan energi yang tinggi, maka isu Konservasi dan Efisiensi Energi menjadi relevan di Indonesia, karena kita tidak bisa terus menerus membangun pembangkit listrik atau menghadirkan energi yang saat ini cenderung dipenuhi melalui impor,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal MASKEEI, Arya Rezavidi, menyoroti ketidakseimbangan antara tingkat konsumsi energi nasional dan kemampuan penyediaan energi yang tersedia saat ini.
“Undang-Undang no.30 Tahun 2007 tentang Energi, secara garis besar berbicara mengatur supply dan demand soal energi dimana supply dan demand energi di Indonesia harus dijaga keseimbangan nya. Namun saat ini terlihat konsumsi energi di Indonesia saat tinggi sehingga Kementerian ESDM harus bersusah payah menghadirkan supply energi di Indonesia,” ujar Arya.
Menurut Arya, keberhasilan konservasi energi tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan energi secara lebih bijak.
“Isu Konservasi dan Efisiensi Energi ini melibatkan semua sektor dan lapisan masyarakat karena poin penting dalam isu Konservasi dan Efisiensi Energi ini adalah mengubah perilaku masyarakat untuk sadar dan aktif melakukan kegiatan hemat energi,” katanya.
Selain mendorong perubahan perilaku masyarakat, MASKEEI juga menilai sektor pembiayaan dapat memainkan peran lebih besar dalam mendukung program efisiensi energi nasional.


Tinggalkan Balasan