Jakarta — Ketua Umum Barisan Insan Muda, Syarief Hidayatullah, menyampaikan kritik keras terhadap pernyataan Saiful Mujani yang dinilai mengarah pada keinginan menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai, sebagai seorang intelektual, Saiful seharusnya menjaga etika publik dan tidak melontarkan narasi yang berpotensi mendorong tindakan inkonstitusional.

Menurut Syarief, pernyataan seorang akademisi atau intelektual memiliki bobot moral dan pengaruh besar di ruang publik. Oleh karena itu, setiap gagasan yang disampaikan harus berbasis kajian ilmiah yang jelas, bukan sekadar opini yang berpotensi memicu instabilitas.

“Sebagai intelektual, tidak semestinya menyampaikan ajakan, seruan, atau ungkapan yang mengarah pada tindakan inkonstitusional. Itu bukan hanya melanggar etika akademik, tapi juga berbahaya bagi stabilitas demokrasi,” tegas Syarief.

Ia menambahkan, jika pernyataan tersebut dimaksudkan sebagai bagian dari forum akademis, maka seharusnya disampaikan secara sistematis, argumentatif, dan berbasis data, bukan dengan gaya yang terkesan provokatif.

“Kalau itu forum akademis, jelaskan secara akademis. Jangan seperti provokator yang membakar emosi massa. Ini dua hal yang sangat berbeda,” ujarnya.

Lebih jauh, Syarief menilai bahwa pernyataan tersebut patut didalami lebih lanjut oleh aparat penegak hukum, khususnya unsur intelijen, untuk mengungkap latar belakang dan motif di baliknya.

“Patut diduga ini bukan sekadar kehendak pribadi. Aparat penegak hukum, terutama intelijen, harus mampu mengungkap apa motivasi di balik pernyataan tersebut. Apakah ini murni pandangan pribadi atau ada aktor lain di belakangnya,” katanya.

Ia juga mempertanyakan kemungkinan adanya kepentingan tertentu yang memengaruhi pernyataan tersebut, termasuk dugaan keterlibatan pihak lain.

“Perlu ditelusuri apakah ada aktor intelektual lain yang mendorong, atau bahkan ada bohir di belakangnya. Ini penting agar publik tidak disesatkan oleh narasi yang tidak jelas sumber dan tujuannya,” lanjut Syarief.

Syarief mengingatkan bahwa jika narasi seperti ini dibiarkan berkembang tanpa klarifikasi dan penegakan aturan, maka kualitas demokrasi akan menurun.

“Kalau ini dibiarkan, demokrasi kita menjadi tidak sehat. Jadinya setiap orang bisa bicara asal bunyi tanpa tanggung jawab. Ini berbahaya,” tegasnya.

Ia juga membedakan antara kritik yang sah dalam demokrasi dengan upaya yang berpotensi mengarah pada tindakan melawan hukum.

“Kalau ini bagian dari skenario besar untuk mengganggu pemerintahan yang sah, maka itu bisa dikategorikan sebagai makar dan harus ditindak tegas. Tapi kalau hanya bentuk kekecewaan pribadi, jangan dibawa ke ranah politik,” ujarnya.

Menurutnya, tidak menutup kemungkinan faktor personal turut memengaruhi pernyataan tersebut.

“Bisa saja ada faktor pribadi, misalnya tekanan ekonomi atau bisnis yang terganggu karena situasi tertentu. Tapi urusan pribadi jangan dijadikan isu politik nasional,” kata Syarief.

Menutup pernyataannya, Syarief mengajak seluruh kalangan intelektual untuk tetap menjaga marwah keilmuan dan berkontribusi secara konstruktif dalam menjaga demokrasi.

“Perbedaan pendapat itu wajar dalam demokrasi, tapi harus disampaikan dengan tanggung jawab, etika, dan dalam koridor konstitusi,” pungkasnya.

Temukan juga kami di Google News.