Mengherankan bagi saya, orang yang selama ini kita anggap ateis, anti-agama, ternyata banyak mengambil inspirasi dari filsuf yang mengolah teorinya dari teologi Kristen. Ya, Karl Marx banyak berhutang budi pada guru besarnya Hegel, filsuf Kristen, salah satunya dari esai yang berjudul The Life of Jesus.

Dalam esai tersebut, Hegel menawarkan interpretasinya tentang kehidupan Yesus yang dalam pandangan Copleston, sepenuhnya dihumanisasikan. Sama sekali tidak disebutkan adanya keajaiban, dan elemen-elemen mukjizat dan supernatural kehidupan Yesus dihilangkan. Hegel menggambarkan kehidupan Yesus sebagai sosok guru atau pembimbing moral yang berusaha melakukan pembebasan atas masyarakatnya.

Esai Hegel tentang kehidupan Yesus ini kemudian diolah kembali secara revolusioner oleh murid dan pengagumnya yaitu David Strauss. Ia melakukan demitologisasi atas sejarah Yesus yang hampir diselubungi banyak mitos. Dengan itu diharapkan akan diperoleh sifat natural dan kemanusiaan alamiah dari Sang Pembimbing moral ini.

Di tangan Marx, kisah kehidupan Yesus menjadi ekspresi pembebasan dan puitik dari kesadaran manusia melalui teori-teori ekonomi-politik. Awalnya, dari Ludwig Feuerbach dengan bukunya yang berjudul The Essence of Christianity, Marx terbangunkan dari tidur dogmatismenya dan kemudian ia kembali menelusuri falsafah sejarah Hegel. Ia memberi substansi dalam materialisme Feuerbach yang a-historis. Walaupun Marx mengkritik agama sebagai kekuatan yang mengasingkan manusia dari kehidupan nyata, ia memiliki dakwah yang sama dengan Yesus untuk membebaskan manusia dari jeruji dan kooptasi kekuatan material.

Perhatian Yesus dan Marx adalah sama, yaitu pembebasan masyarakat, meskipun dengan cara dan metode yang berbeda. Buku ini menjadi menarik, karena memberikan pengantar panjang tentang fermentasi pemikiran Marx dilihat dari pemikir-pemikir sebelumnya, terutama dari pergulatannya dengan Hegel dan Feuerbach.

Temukan juga kami di Google News.