JAKARTA — Founder Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal menyampaikan, bahwa kehidupan di dunia digital menghadirkan banyak peluang, tetapi juga menyimpan ancaman serius.
Berbagai identitas palsu, akun bayangan, hingga modus penipuan online terus berkembang seiring meningkatnya interaksi masyarakat di ruang maya.
Ia pun mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menyikapi interaksi digital. Menurutnya, ruang maya memang luas, tetapi penuh dengan jebakan kepalsuan.
“Di dunia digital, yang terlihat belum tentu nyata; waspada adalah mata hati yang kedua,” kata Syam dalam rilis yang diterima, Jumat (26/9/2025).
Modus Penipuan Digital Semakin Beragam
Scammer atau penipu online memahami psikologi manusia dengan sangat baik. Mereka memanfaatkan rasa penasaran, emosi, hingga kepercayaan untuk menjerat korban. Profil palsu dengan foto meyakinkan, biodata rapi, dan unggahan aktivitas sehari-hari hanyalah ilusi yang sengaja dibangun untuk mencuri perhatian.
Beberapa modus yang kerap digunakan antara lain: berpura-pura sebagai investor dengan janji keuntungan besar, membuka peluang bisnis semu, hingga meminta donasi kemanusiaan yang ternyata berakhir di rekening pribadi. Tak jarang pula mereka menyamar sebagai “teman lama” atau “kerabat jauh” yang tiba-tiba hadir kembali.
Mengincar Celah Psikologis Korban
Menurut Syam, kecanggihan scammer terlihat dari kemampuan mereka menyesuaikan diri dengan tren. Penipuan bisa dilakukan lewat pesan WhatsApp mengatasnamakan instansi resmi, lowongan kerja fiktif di LinkedIn, atau penawaran hadiah palsu melalui email.
“Setiap modus baru hanyalah wajah lama yang menyamar; jangan biarkan hati terburu-buru menutup mata logika,” ujarnya.
Scammer pandai memainkan emosi korban. Ada yang berpura-pura sakit keras untuk memancing rasa iba, atau menciptakan situasi darurat dengan kalimat seperti “segera transfer” atau “promo terbatas”. Dalam kondisi panik, korban cenderung tergesa mengambil keputusan.
Kesadaran Digital Jadi Tameng Utama
Kesadaran digital dinilai sebagai benteng utama untuk melindungi diri. Menurut Syam, kesadaran bukan hanya tentang mengenali tanda-tanda bahaya, tetapi juga berani berkata “tidak” pada ajakan mencurigakan.
Ia menegaskan, masyarakat tidak perlu merasa bersalah memblokir akun berbahaya, menolak permintaan yang janggal, atau melaporkan aktivitas meresahkan.
“Kesadaran digital adalah pagar tak kasatmata; ia menjaga kita dari tangan-tangan yang tak terlihat,” tegas Syam Basrijal.
Pentingnya Literasi Digital
Selain kewaspadaan pribadi, literasi digital juga berperan penting untuk meminimalisir korban penipuan. Edukasi mengenai modus penipuan online perlu digencarkan, terutama kepada generasi muda dan pengguna baru internet.
Dengan literasi digital yang kuat, masyarakat bisa membangun ekosistem dunia maya yang lebih aman dan sehat.
“Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan komunitas dinilai penting dalam menghadapi ancaman penipuan digital yang terus berevolusi,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan