Jakarta – Kemacetan parah melanda kawasan Monas dan sekitarnya setelah ribuan pengemudi ojek online (ojol) dari Aliansi Pengemudi Online Bersatu memadati Jalan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat.
Aksi unjuk rasa yang diikuti sekitar ribuan massa ini memicu kepanikan pengendara dan warga yang terjebak di tengah arus macet selama berjam-jam. Meski sebelumnya sudah diingatkan agar masyarakat menghindari tiga titim yakni mulai Patung Kuda hingga Gedung DPR yang menjadi lokasi demo. Polda Metro pun menghimbau masyarakat untuk mencari jalur alternatif.
Demo Ojol Berujung Chaos Lalu Lintas
Sejak pukul 11.30 WIB, massa aksi yang dipimpin oleh Mahmud, Saeful Rahman, dan Yustanto memblokir ruas jalan di sekitar Silang Monas Selatan. Mereka membawa puluhan bendera organisasi, spanduk tuntutan, dan kendaraan roda dua (R2) serta roda empat (R4) yang diparkir di tengah jalan. Akibatnya, arus kendaraan dari arah Harmoni hingga Istana Kepresidenan nyaris tidak bergerak.
“Ini sudah dua jam saya terjebak di sini. Anak saya harusnya dijemput dari sekolah, tapi jalanan benar-benar macet total!” protes Andi (42), seorang pengendara yang terpaksa mematikan mesin mobilnya.
Tuntutan Ojol vs Kemacetan yang Menyiksa
Aliansi yang terdiri dari 36 kelompok pengemudi online, termasuk FDTOI, SePOI, dan Gerakan Ojol Merdeka menuntut:
1. Potongan aplikasi maksimal 10% (dari sebelumnya 15-20%).
2. Penghapusan tarif murah seperti Grab Hemat dan layanan berbayar.
3. Revisi aturan Kemenhub terkait tarif dan perlindungan driver.
Namun, tuntutan mereka justru berbalas derita warga yang tidak tahu-menahu soal polemik ojol. “Mereka demo hak mereka, tapi kami yang jadi korban macet. Pemerintah harusnya bisa atur demo tanpa ganggu kepentingan umum!” geram Siti (35), seorang ibu yang terpaksa turun dari bus karena jalanan tidak bisa dilalui.
Orasi Emosional, Lalu Lintas Semrawut
Aksi semakin panas saat beberapa perwakilan ojol berorasi dengan nada tinggi:
– “Kami bukan robot! Kami butuh makan!” teriak Widiantoro, salah satu penggerak aksi.
– “Perusahaan kaya, driver menderita! Hapus potongan 20%!” tambah Toyang, disambut sorak massa.
Sementara itu, polisi lalu lintas kewalahan mengurai kemacetan. Beberapa pengendara motor nekat menerobos trotoar, sementara mobil-mobil terpaksa berputar jauh untuk menghindari titik demo.
Pernyataan Sikap: Demo Akan Berlanjut?
Aliansi mengancam akan melakukan aksi lebih besar jika tuntutan tidak dipenuhi. “Ini baru awal. Jika pemerintah tidak mendengar, kami akan turunkan ribuan driver lagi!”tegas Yustanto.
Sementara itu, **Kemenhub belum memberikan respons resmi. Warga Jakarta hanya bisa berharap aksi ini tidak berlarut-larut, karena dampak kemacetannya sudah merugikan banyak pihak.


Tinggalkan Balasan