Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Mayoritas parpol dan politisi Koalisi Indonesia Maju membela Jokowi dari tuntutan Pemakzulan oleh rakyat. Dari Golkar, Gerindra, PAN, DEMOKRAT, PBB hingga Gelora, semuanya bersuara membela Jokowi.

Golkar melalui sang Ketum, Airlangga Hartarto dan Ace Sadjily. Gerindra melalui Muzani dan Dasco. Demokrat melalui Hinca Panjaitan dan Santoso. PAN melalui Yandri, Gelora lewat Fahri dan PBB via Yusril.

Sepertinya, mereka diperintah Jokowi untuk bersuara. Karena Jokowi takut menanggapi sendiri, karena akan menjadi lebih ramai aspirasinya.

Bahkan, Luhut ikut nimbrung. Dengan mengecam pejabat yang komentar (Puan) sebagai ga bener. Padahal, dia sendiri ikut komentar.

Istana sudah lebih dulu meradang. Melalui Ari Dwipayana, istana membantah alasan Pemakzulan Jokowi.

Bisa dipahami kenapa partai dalam Koalisi Indonesia Maju yang mengusung Prabowo Gibran membela Jokowi. Karena mereka diuntungkan oleh kekuasaan Jokowi dalam Pilpres 2024 ini. Kalau tidak ada dukungan Jokowi, pastilah Prabowo yang berpasangan dengan Gibran akan kalah.

Jokowi menjadi faktor utama kemenangan Prabowo, bukan elektabilitasnya. Prabowo elektabilitasnya melorot tajam, sejak pengkhianatannya di Pilpres 2019 lalu, dan beberapa kali penampilannya di debat Pilpres makin membuatnya nyungsep.

Parpol yang mengusung Anis Cak Imin dan Ganjar Mahfud tidak meradang terkait aspirasi Pemakzulan Jokowi. Karena mereka, tidak mendapatkan benefit kekuasaan dan dukungan Jokowi dalam Pilpres ini. Mereka semua paham, Jokowi tidak netral, tapi mereka tak berani bersuara lantang.

Karena itu, ketika ada suara Petisi 100 yang minta Jokowi dimakzulkan, tim 01 dan 03 relatif tidak menentang. Bahkan, boleh jadi implisit mendukung.

Koalisi Prabowo Gibran jelas meradang. Karena tuntutan Pemakzulan Jokowi sama saja tuntutan kekalahan Prabowo. Kejatuhan Jokowi berdampak pada kejatuhan Prabowo, karena Prabowo tidak berdikari, tidak berdiri diatas kaki sendiri, melainkan diasuh dalam topangan kekuasan Jokowi.

Prabowo telah merasakan kekalahan telak dua pilpres karena tidak adanya dukungan kekuasaan. Maka Prabowo mengambil jalan pintas, meminta kekuasaan Jokowi menopangnya agar dia bisa menang Pilpres.

Kalau koalisi Prabowo Gibran membantah tulisan ini, semestinya mendukung proses Pemakzulan Jokowi. Karena tulisan ini hanya bisa dibantah oleh mereka, dengan mendukung proses Pemakzulan atau setidaknya mendiamkannya (netral).

Temukan juga kami di Google News.