Rimanews.id- Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 2 Prabowo-Gibran berkomitmen untuk menciptakan ekonomi hijau sebagai langkah untuk mencegah perubahan iklim yang sudah semakin buruk melalui berbagai metode pendekatan.
Hal ini terungkap dari dokumen visi-misi keduanya yang berjudul, “Indonesia Maju,” dimana keduanya menempatkan inisiatif ekonomi hijau dalam program Asta Cita nomor 2.
“Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru,” dikutip dari dokumen visi-misi Prabowo-Gibran pada Senin, 18 Desember 2023.
Dalam turunan Asta Cita nomor 2, program ekonomi hijau yang diusung oleh pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo-Gibran mencakup serangkaian tindakan penting untuk perlindungan lingkungan dan keberlanjutan.
Mereka bertekad untuk menindak tegas pencemaran lingkungan, perusakan habitat, dan pembakaran hutan. Program ini juga berfokus pada perlindungan keanekaragaman hayati dan kearifan lokal serta mengatasi praktik pertambangan yang merusak lingkungan. Mereka berencana untuk melakukan restorasi dan rehabilitasi lingkungan yang terdegradasi.
Selain itu, Prabowo-Gibran juga berkomitmen untuk memberikan hukuman berat kepada pelaku pembalakan liar, kebakaran hutan, dan pembunuhan satwa liar yang dilindungi. Mereka juga mendorong budaya ramah lingkungan melalui inisiatif seperti penggantian kantong plastik dengan bahan yang lebih ramah lingkungan dan dapat didaur ulang.
Perlindungan satwa dan tumbuhan langka, endemik, dan terancam punah menjadi prioritas, dengan menghentikan perdagangan ilegal, serta melalui upaya konservasi dan perlindungan genetik, habitat, dan ekosistem.
Program ekonomi hijau ini juga menekankan peningkatan anggaran untuk riset dan peningkatan kompetensi peneliti di bidang pelestarian keanekaragaman hayati.
Prabowo-Gibran juga berencana untuk mencegah deforestasi, memanfaatkan lahan kurang produktif untuk mengurangi perambahan hutan, dan mengimplementasikan standar pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Terakhir, mereka akan mempercepat dekarbonisasi untuk mencapai target net zero emission dan mengembangkan ekosistem yang mendukung penggunaan dan pengembangan sumber daya alam yang berkontribusi pada penyerapan dan pengimbangan karbon, memanfaatkan peluang ekonomi hijau.
Sementara itu, Ika Idris dari Monash Climate Change Communication Research Hub-Indonesia Node pun juga mengomentari soal pentingnya ekonomi hijau.
Ia menekankan pentingnya memerangi perubahan iklim, terutama mengingat dampak nyata seperti polusi udara di kota dan kekeringan serta gagal panen di pedesaan.
Ika pun menyatakan bahwa mengurangi pemanasan global dan menangani perubahan iklim merupakan agenda global yang mempengaruhi setiap orang. Terakhir, ia berharap dalam Pemilu 2024 yang akan segera dilaksanakan, semua orang bisa melakukan evaluasi dalam memilih kandidat yang benar-benar berkomitmen dalam mengatasi perubahan iklim.
“Dalam pemilu ini, kita harus mengevaluasi dan memilih kandidat yang benar-benar berkomitmen terhadap isu perubahan iklim yang mempengaruhi kita semua,” ungkap Ika Idris.
Berkaca dari pernyataan Ika tersebut, tampaknya program ekonomi hijau milik Prabowo-Gibran tampak menjanjikan untuk mengatasi isu perubahan iklim.


Tinggalkan Balasan