Jakarta – Desakan dari berbagai pihak untuk mencopot Kabaintelkam Komjen Paulus Waterpauw terkait adanya aksi teror beberapa waktu yang lalu dianggap sangat tendensius dan tidak masuk akal. Beberapa pihak yang melakukan desakan antara lain Ketua Lembaga Hukum Himpunan Mahasiswa Islam (LKBHMI MPO) Komarudin, yang disampaikan melalui diskusi virtual dan konferensi pers Forum Blogger Independen (FBI) Jabodetabek.

Pengamat Intelijen dan Terorisme Stanislaus Riyanta menyebutkan bahwa aksi teror yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri bukan terus Kabaintelkam harus dicopot, apalagi baru saja menjabat.

“Peran intelijen adalah melakukan deteksi dini dan cegah dini ancaman. Adanya penangkapan puluhan orang yang terkait kasus teror membuktikan bahwa intelijen bekerja. Kasus di Makassar pelakunya sedang diburu karena terkait jaringan JAD namun pelaku ternyata melakukan aksi terlebih dulu” ungkap Stanislaus.

Pada kasus di Mabes Polri, Stanislaus menjelaskan bahwa pelaku adalah lone wolf alias tidak terkait dengan kelompok secara langsung, walaupun terpapar ideologi ISIS.

“Aksi lone wolf sangat sulit dideteksi karena merencanakan dan melakukan aksi sendiri. Ini memang sulit dicegah, sehingga perlu kerjasama semua pihak untuk mampu identifikasi potensi radikalisme terorisme di lingkungannnya termasuk keluarga”, kata Stanislaus.

Terkait dengan desakan untuk mencopot Kabaintelkam, menurut Stanislaus hal tersebut sangat tendensius dan punya motif tersendiri, mengingat upaya pencegahan yang dibuktikan dengan berbagai penangkapan sudah dilakukan tanpa henti.

“Melihat masalah terorisme harus komprehensif, jangan hanya melihat personal Kabaintelkam. Perlu dilihat apa upaya yang sudah dilakukan dengan bukti-buktinya. Jangan hanya menyudutkan pejabat perorangan, yang tendensius”, pungkas Stanislaus Riyanta.