Rimanews.id – Sejumlah santri yang mengatasnamakan diri Gerakan Santri Madura menyatakan menolak dengan tegas keberadaan organisasi masyarakat yang telah dilarang oleh pemerintah, termasuk di dalamnya adalah Front Pembela Islam (FPI).

Hal ini disampaikan lantaran mereka tidak ingin Indonesia terpecah belah karena adanya ulah kelompok masyarakat yang menggunakan paham radikal dan intoleran, serta berperilaku preman.

“Gerakan Santri Madura (GSM) menolak dengan keras segala bentuk paham radikalisme, ekstrimisme dan premanisme,” kata ketua umum GSM, Zubair di Alun-Alun Pamekasan Jl. Mesigit, Barurambat Kota, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (9/2/2021).

Kemudian, ia juga meminta kepada seluruh masyarakat Madura untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu yang memecah belah, sekalipun menggunakan narasi keagamaan sebagai upaya untuk melegitimasi propagandanya.

“GSM mengajak kepada masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Madura agar tidak terprovokasi isu-isu Agama yang memecah belah bangsa,” serunya.

Selanjutnya, Zubair menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung keras upaya pemerintah melalui instrumen hukumnya untuk menindak seluruh oknum atau kelompok masyarakat yang melanggar konstutusi di NKRI.

“GSM mendukung langkah-langkah Polri dalam menegakan hukum se-adil-adilnya kepada masyarakat yang melanggar konstitusi di Republik ini,” tegasnya.

Terakhir, ia juga menyampaikan bahwa pihaknya siap menjadi kelompok yang paling terdepan menjaga agar Indonesia tetap damai dan sejuk.

“GSM siap berada di garda terdepan untuk menjaga perdamaian di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mendukung Pemerintah dalam memberantas organisasi radikal dan organisasi terlarang di Indonesia,” tutupnya.