Oleh Ayik Heriansyah
Pengurus LD PWNU Jabar

Ahmad Khozinuddin (AK) advokat di LBH Pelita Umat seorang aktivis Hizbut Tahrir di Indonesia melalui tulisannya “PDIP Lancang Mensejajarkan Khilafah dengan Komunisme, Ingin Menantang ‘Perang’ Umat Islam” yang beredar di media sosial, adalah opini yang bersangkutan dan teman-temannya di HTI.

Bukan saja lancang, tetapi juga bejat, jahat, licik dan berbahaya! AK membawa-bawa nama Islam, umat Islam dan Khilafah guna menyerang PDIP.

Harusnya, AK bawa-bawa HTI saja, karena khilafah yang ada dalam benak AK, bukan khilafah yang dipahami oleh mayoritas umat Islam. Mayoritas umat mengadopsi makna khilafah yang tertera di dalam kitab-kitab fiqih, khilafah adalah imamah yakni nashbul imam (mengangkat pemimpin).

Di Indonesia ajaran tentang nashbul imam diformalisasikan di dalam konstitusi UUD 45 Bab II, III dan UU Pemilu. Terlepas dari sikap HTI yang menolak semua konstitusi dan perundang-undangan, yang jelas khilafah/imamah/nashbul imam sudah diterapkan dalam sistem kenegaraan.

Sampai berbusa-busa dan berdarah-darah pun AK dan HTI meneriakkan kata Islam, umat Islam syariah dan khilafah, kaum muslimin sudah sangat mafhum, AK dan HTI bukan sedang memperjuangkan ajaran Islam karena dorongan iman dan taqwa yang berdasarkan ilmu.

AK dan HTI sedang dan terus memperjuangkan ideologi yang dikarang oleh Taqiyuddin an-Nabhani. Sebuah ideologi buatan manusia yang mempunyai segala terbatasan. Pasti mengandung kesalahan dan kelemahan. Dan tidak wajib diikuti.

AK dan HTI mau berselancar di atas gelombang polemik RUU HIP dengan membangkitkan kembali hantu PKI. Sambil mengarahkan moncong opininya ke PDIP, demi meraih simpati umat.

Untung yang terjadi sebaliknya, publik justru makin geram, mangkel, marah dan muak kepada HTI yang kerap mempolitisir ajaran Islam demi memenuhi syahwat mereka akan kekuasaan.

Serangan HTI ini berbahaya karena mengadu domba umat Islam dengan umat Islam dan umat beragama lainnya yang ada di PDIP sebab AK dan HTI tidak mewakili umat Islam.

Umat menunggu, kapan aktivis dan pengurus HTI diseruduk banteng, agar mereka berhenti mempolitisir Islam, syariah dan khilafah.